Ramadhan dan Pencarian Jati Diri

  • Bagikan

Penahkah kita tersadarkan dengan berbagai waktu yang silih berganti yang kita lalu sebagai seorang muslim termasuk bulan ramadhan. Ya, masih ingatkan sudah berapa ramadhan kita lewati dan makna pencarian apa yang kita dapati selama menjalankan bulan penuh ampunan dan bulan penuh amalan itu. Mungkin jawabannya, akan beragam dan tak jarang juga kita tak mengakui bahkan telah lupa dengan apa yang kita lakukan pada ramadhan, kalaupun ingat hanya pada tataran ibadah nyatanya saja sebut saja shalat tarawih, sahur atau berbuka puasa.
Bulan suci ramadhan tinggal menghitung hari, sebagai seorang muslim yang baik kita wajib mempersiapkan diri dalam menyambut dan mengisi bulan agung tersebut. Hanya saja, apakah kita mengisi bulan mulia itu hanya dengan rutinitas semata, bagi anak-anak bulan ramadhan menjadi media pembelajaran untuk mengenalkan rukun islam yang 5. Nah, bagi muslim dewasa, apakah ramadhan hanya menjadi symbol keagamaan semata agar kita terlihat sebagai seorang muslim yang shaleh.
Tentu tidak demikian, sebagai seorang muslim siapapun dimanapun ingin level ibadahnya meningkat dari waktu ke waktu kendati banyak dihdapakan pada hal-hal yang membuat nilai ibadah atau rtinitas ibadah itu terkadang terkendala. Melalui, tulisan ini, penulis hanya sekedar saling berbagi nasihat akan kehadiran bulan ramadhan, dan ini juga sabagai sarana I’tibar bagi penulis untuk bisa menjaga diri dalam menjalankan rutinitas ibadah.
Termasuk pada bulan suci ramadhan, kita pastinya akan berlomba-lomba meningkatkan level ibadah kita dalam mengisi bulan seribu bulan ini. Namun, jangan sampai rutinitas ibadah ramadhan hanya menjadi buruan sesaat tanpa memberi hikmah atau bekas pada hati setiap muslim.
Ramadhan sejatinya menjadi sarana untuk mengenal jati diri kita sebagai seorang insan yang lemah, insan yang butuh perlindungan, insan yang haus akan kebutuhan, insan yang penuh kedzaliman, insan yang serba kekurangan, insan yang penuh dengan kebodohan, insan yang sedikit keilmuan dan insan yang serba-serba kecil dalam segala apapun.
Maka dari itu, penulis mengajak kembali untuk merenungkan posisi kita dalam kehidupan saat ini. Apakah kita hanya akan menjadi insan biasa-biasa saja dalam mengisi ramadhan tahun ini, bukanlah kita sebagai insan yang baik untuk terus diminta mengenal illahinya, hal itu untuk mengenal siapa kita, sebagaimana diingatkan Imam al-Ghazali mengutip hadits Rasulullah “man ‘arafa nafsah faqad ‘arafa rabbah” (siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya).
Namun untuk mengenal Allah tak cukup dengan kegiatan lahiriyah, proses bathiniyah pun perlu diasah bahkan dilatih sedemikian rupa sehingga, proses pendalaman ruhani muncul yang pada akhirnya menjadikan seorang muslim yang siap menjadi hamba yang shaleh.
Sebagaimana, tercantum dalam QS Al Fajr; “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi di-ridhai-Nya! Kemudian masuklah ke dalam (jamaah) hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam surga-Ku.”Al-Fajr/89:27-30]
Untuk mengenali diri sendiri, Imam al-Ghazali mengawali penjelasan dengan menyebut bahwa dalam diri manusia ada tiga jenis sifat: (1) sifat-sifat binatang (shifâtul bahâ’im), sifat-sifat setan (shifâtusy syayâthîn), sifat-sifat malaikat (shifâtul malâikah)

Dari ketiga sifat yang dipaparkan imam Ghazali, tentu saja selintas kita bisa memahami dan terketuk hati kita untuk terus memperbaiki sifat hidup kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pilihannya tentu ada disetiap diri kita, mau masuk kategori pertama, kedua atau ketiga. Maka dari itu, bulan ramadhan tinggal didepan mata, untuk meraih jati diri yang hakiki, ramadhan menjadi sebuah media ikhtiar diri yang paling baik.
Karena, dalam ramadhan ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperbaiki jati diri seorang muslim. Muslim yang bagaimana, tentu muslim yang benar-benar melakukan proses pencarian jati diri, dengan apa. Tentu dengan kemampuan diri sendiri melalui berbagai media pelatihan yang sudah diajarkan oleh para guru dan kiyai kita dalam memaknai hubungan dengan Allah SWT.
Karena, untuk meraih proses pencarian jati diri ini sangat disenangi Allah SWT sebagaimana ayat ini, Artinya: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (muhajadah) untuk untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Al-‘Ankabut: 69).
Semoga melalui tulisan yang singkat ini, menjadi pengingat juga bagi penulis dan insan muslim semuanya, entah berapa ramadhan yang sudah kita lalui, maka untuk ramadhan tahun ini mari kita coba kembali menjadi seorang muslim yang melakukan pencarian jati diri sesungguhnya untuk menjadi seorang mukmin yang pada akhirnya mencapai predikat orang yang beriman lagi bertakwa sesuai dengan perintah puasa itu sendiri. Sebagaimana ayat tentang puasa : “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al Baqarah:183). (*)

banner 120x600
  • Bagikan